Clicks904

Surat dari Bapa Prelat ( Desember 2011)

jamacor
Surat dari Bapa Prelat ( Desember 2011) Dengan mengutip kata-kata Paus Benedictus XVI, Bapa Prelat menghimbau kita supaya kita mempersiapkan diri untuk hari Natal. Dengan inkarnasi dan kelahiran …More
Surat dari Bapa Prelat ( Desember 2011)
Dengan mengutip kata-kata Paus Benedictus XVI, Bapa Prelat menghimbau kita supaya kita mempersiapkan diri untuk hari Natal. Dengan inkarnasi dan kelahiran Sang Sabda, “telah teratasijarak yang tak terhingga antara Allah dan manusia”.

01/Desember/2011


Yang terkasih: semoga Yesus menjaga putra-putriku!

Kita telah memasuki masa Adven, yang mengajak kita untuk memperbaharui harapan kita: bukan harapan yang fana, yang segera berlalu, tetapi suatu keyakinan yang teguh, karena berasal dari Allah sendiri. Pengharapan yang penuh sukacita ini, ciri-ciri khas dari minggu-minggu menjelang Natal,
adalah sikap mendasar umat Kristiani yang berhasrat untuk memetik buah dari pertemuan baru dengan Yang Datang dan Tinggal diantara kita, Yesus Kristus, Putra Allah yang menjadi manusia[1].Minggu lalu, dalam bacaan pertama Misa Kudus, kita membaca kata-kata nabi Yesaya, yang menderita melihat kondisi bangsa yang terpilih. Hati mereka, pria dan wanita, telah menjadi keras dan hidup terasing dari Allah, dan Nabi Yesaya memohon kepada Tuhan agar mereka bertobat: Kembalilah, oleh karena hamba--hamba-Mu dan oleh karena suku-suku milik pusaka-Mu(...). Sudilah Engkau mengoyakkan langit dan turun, sehingga gunung-gunung goyang di hadapan-Mu[2]. Seruan ini sering bergema dalam minggu ini dengan ungkapan yang berbeda-beda, dan kita pun, siap selalu mengikuti suara Gereja, mengulanginya dengan tulus: Veni, Domine, et Noli tadarare. Facinora Relaxa Tuae plebian[3]; Datanglah, ya Tuhan, dan jangan menunda; lepaskanlah beban berat yang menimpa umat-Mu. Liturgi meyakinkan kita: Tuhan akan segera datang dan berkuasa atas segala bangsa, dan akan disebut Imanuel, yaitu, Tuhan beserta kita [4]. Demikianlah: Tuhan telah datang untuk menghancurkan semua karya kejahatan dan semua yang menjauhkan kita dari Tuhan, untuk mengembalikan kita ke kejayaan masa lampau dan ke hubunganawal antara bapa dan anaknya.[5]

Berapa kali sudah kita berseru dalam hati dan di bibir kita: Veni, Domine Jesu [6]? Mari kita benar-benar menikmati kata-kata dari Kitab Suci yang diterapkan dalam liturgi penantian kelahiran Kristus, Hai langit, teteskanlah keadilan dari atas, dan baiklah awan-awan mencurahkannya! Baiklah bumi membukakan diri dan bertunaskan keselamatan, dan baiklah ditumbuhkannya keadilan [7]. Langit terbuka dua puluh abad yang lalu bagi kedatangan Sang Penebus Dunia dan ini terus terjadi setiap hari, apabila Yesus datang kepada kita dengan kehadiran sacramental-Nya dalam Ekaristi Kudus. Oleh karena itu, setiap orang seharusnya membuka hati lebar-lebar agar embun surgawi yang menghendaki kita berhasil akan menyirami hati kita. Oleh karena itu, cara terbaik untuk mempersiapkan kedatangan Tuhan Yesus pada hari Natal yang akan datang ini, adalah dengan menyiapkan jiwa dan raga kita setiap hari untuk menyambut-Nya dalam Komuni Kudus dengan semangat baru. Apakah engkau menggunakan hari-hari ini dengan baik? Bagaimanakah hasratmu agar seluruh umat manusia menyambut Tuhan? Apakah lampu-lampu dan hiasan (Natal) di jalanan membuat engkau berdoa agar Tuhan menerima sambutan yang layak dari ciptaan-Nya?

Santo Josemaría, mendorong kita memanfaatkan minggu-minggu ini untuk
membuat sebuah kadang Natal dengan hati kita untuk Tuhan. Ingatkah kalian ketika kalian masih kecil? Begitu gembira kita mempersiapkan kadang Natal, dengan gunung-gunung dari gabus, rumah-rumahan kecil, dan patung-patung di sekitar palungan di mana Allah telah berkenan lahir!.[8] Dan beliau membuat suatu renungan yang dapat diterapkan pada semua kaum beriman: Aku tahu dengan dengan baik, dengan berlalunya waktu, bahwa Opus Dei adalah untuk umat Kristiani dewasa yang demi cinta kasih Allah menjadikan diri seperti kanak-kanak, putra-putriku makin lama menjadi semakin kecil. Maka, dengan sukacita yang lebih besar daripada kegembiraan di masa kecil itu, kita akan dapat menyiapkan kandang Natal dalam lubuk jiwa kita [9].

Merenungkan peristiwa luar biasa yang akan kita peringati, Bapa Paus mengajak kita untuk memikirkan bahwa sabda yang mulai terlaksana pada malam hari di Betlehem itu jauh lebih agung dan, -dari sudut pandang duniawi- lebih sederhana dari pada apa yang dapat disimpulkan dari nubuat-nubuat[10]. Nabi Yesaya dan semua nabi hanya melihat dengan samar-samar apa yang akan terjadi pada malam Natal. Terwujudnya sabda memiliki daya yang tak terkira besarnya, yang tiada bandingnya, karena dengan inkarnasi dan kelahiran Sang Sabda, telah teratasi jarak yang tak terhingga antara Allah dan manusia. Allah tidak hanya membungkuk ke bawah, seperti yang telah dikatakan dalam Mazmur: Dia benar-benar "turun", datang ke dunia, menjadi salah satu dari antara kita, umat manusia, untuk membawa kita semua kepada-Nya[11]. Namun, semuanya dilaksanakan dengan kerendahan hati yang sangat dalam; Allah yang Mahatahu, Mahakuasa dan Abadi, telah menyerahkan Diri-Nya kepada kita sebagai bayi yang baru lahir, tak berdaya,membutuhkan pelukan manusia untuk melindungi-Nya dan membutuhkan hati yang sungguh-sungguh mencintai-Nya. Kita harus meniru teladan Maria dan Yusuf pada malam hari di Betlehem, dalam keheningan doa, dalam kehadiran Tuhan dan bila menerima-Nya dalam sakramen Ekaristi. Dengan membuat kandang Natal di rumah-rumah keluarga, kita mengungkapkan pengharapan akan kedatangan Allah kepada kita (...), tetapi juga merupakan suatu ungkapan syukur kepada Dia yang telah bersedia mengambil kodrat manusia dalam kemiskinan dan kesederhanaan[12].

Kita juga sedang mempersiapkan hari Pesta Santa Maria tak Bernoda yang sudah dekat. Hati kita sebagai seorang anak dipenuhi oleh kegembiraan yang besar pada hari pesta besar ini, karena pada diri Santa Perawan Maria tercermin kebesaran dan kerendahan hati yang membuat Putranya turun ke bumi. Keagungan Maria, Bunda yang termurni, Bunda yang kudus, ciptaan yang paling mulia. Begitu besar martabatnya, sehingga umat Kristiani memuji dia dan berseru: hanya Allah yang lebih besar dari padamu! Dan kerendahan hati Santa Perawan Maria dari Nazaret yang besar, karena walaupun telah dipilih dari segala zaman untuk menjadi Bunda Allah, ia menganggap dan menyebut dirinya sebagai hamba Tuhan. Betapa banyak pelajaran yang terus menerus kita terima dari Bunda kita, dan khususnya sekarang, pada hari-hari menjelang hari pestanya! Mari kita berdoa agar kita tidak melupakan pelajaran ini, dan agar kita menerapkannya.

Saya teringat bahwa justru pada hari-hari ini di tahun 1931-delapan puluh tahun telah berlalu-St Josemaría menulis renungan tentang misteri-misteri Rosario, yang sejak itu telah membantu banyak orang untuk memasuki jalan kehidupan kontemplasi. Saya ingin menyarankan, untuk hari-hari ini, agar kalian berusaha untuk mendaraskan dengan penuh perhatian dan dengan tidak terburu-buru devosi kepada Bunda Maria ini. Pada suatu kesempatan ketika menjawab sebuah pertanyaan, Santo Josemaría menjelaskan:
Rosario adalah suatu doa yang sangat berkenan pada Santa Maria, yang telah berakar dalam kehidupan umat Katolik sejak berabad-abad yang lalu. Dan juga merupakan suatu renungan tentang misteri kehidupan Tuhan Yesus dan Bunda-Nya. Oleh karena itu, saya menganjurkannya dengan sepenuh hati, juga sebagai doa yang dapat didaraskan bersama dalam keluarga, tetapi jangan memaksa anak-anak kecil untuk ikut berdoa (...). Jika mereka mau ikut berdoa, biarkan mereka ikut. Tetapi jika mereka tidak datang, biarkan mereka, karena nantinya mereka akan datang juga. Itu harus dilakukan secara sukarela[13].

Karena St Josemaría memiliki respek yang besar terhadap kebebasan orang-orang, beliau juga menambahkan bahwa dalam hal ini, -seperti dalam semua praktik-praktik kesalehan- setiap orang harus menemukan jalannya sendiri. Dia menambahkan: Saya ingin menyarankan suatu cara untuk mendaraskannya. Tetapi ini bukan satu-satunya cara untuk itu, karena ada ribuan cara yang berbeda. Jiwa-jiwa, meskipun hampir sama, masing-masing memiliki cara tersendiri. Ikutilah cara yang kausukai untuk doa rosario dan juga doa-doa lain. Namun cobalah,-jika engkau berminat- merenungkan sejenak doa-doa yang membentuk Rosario, yang ditentukan oleh Gereja. Ucapkan perlahan-lahan Bapa Kami dan Salam Maria. Jika perhatianmu teralih, usahakanlah kembali dengan segera. Dan walaupun perhatianmu terganggu terus menerus, engkau sudah berdoa: engkau telah menyanyikan ‘serenade’ untuk menghormati Bunda Allah [14].

Selama masa Adven, kita dapat mengingat kembali dengan lebih jelas, Peristiwa Gembira dari doa Rosario; terutama dalam minggu terakhir, ketika liturgi mengintensifkan persiapan untuk hari Natal. Mari kita berupaya untuk merenungkan Peristiwa Gembira itu secara khusus. Untuk membantu kalian dan untuk saya sendiri juga, saya mengutip salah satu komentar Santo Josemaría atas Peristiwa Gembira.


Ingatlah akan Peristiwa Gembira: mari kita mengagumi kerendahan hati Yesus, formamida exinanivit accipiens semetipsum: yang mengosongkan dirinya menjadi seorang hamba, mengambil daging seperti daging kita. Tanpa dosa, tetapi sama seperti daging kita. Kerendahan hati yang membawa-Nya berada di dalam rahim ibu dalam kurun waktu yang sama seperti manusia lain. Marilah kita merenungkan Bunda-Nya juga, yang merendahkan dirinya dan berjalan melalui pegunungan Yudea untuk mengunjungi sepupunya, St Elisabet. Hendaklah kita merenungkan ... dan kita akan terharu, akan peristiwa begitu indah yang tersirat dalam doa Magnificat.

Kemudian lahirlah Tuhan Yesus: seperti kita manusia, tetapi dalam kemiskinan yang lebih besar: bukan di rumah sendiri, tetapi di sebuah sudut. Locus non diversorio erateis: tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan. Walaupun Ia adalah keturunan raja Daud, Tuhan memilih untuk dilahirkan miskin dan hidup miskin. Dan ketika memberi inspirasi pada penulis Injil, dengan ilham Roh Kudus, diceritakan kisah leluhur Yesus, dan dalam kisah itu ada beberapa wanita yang justru tidak dapat disebut sebagai teladan kebajikan –lebih-lebih beberapa... www.opusdei.co.id/art.php